Minggu, 20 Februari 2022

Mengenal Prosa Lirik dalam Sastra I

 MENGENAL PROSA LIRIK DALAM SASTRA

Bagian Pertama

 

Prosa lirik adalah prosa berirama. Kedua isilah itu tidak berbeda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan bahwa prosa berirama merupakan karya sastra yang ditulis dalam ragam prosa, tetapi dicirikan oleh unsur-unsur puisi, seperti irama yang teratur, majas, rima, asonansi, disonansi, dan citra. Dalam pembacaan prosa lirik itu, muncul beberapa nilai rasa yang sama dengan puisi. Hentakan nada dan tempo terasa seperti halnya menghadapi sebuah puisi. Keindahannya terasa di dalam pembacaan itu sehingga prosa lirik enak dibaca.

      Sebuah prosa lirik dalam sastra lama dimunculkan dengan sedemikian rupa sehingga majas perumpamaan sering terlihat dengan jelas. Perumpamaan dalam menggambarkan wajah seorang wanita yang cantik hampir tidak pernah terlupakan di dalamnya. Sebagai suatu contoh, bagaimana M. Rasjid Manggis Gelar Datuk Radjo Panghoeloe (penulis Sabai Nan Aluih) menggambarkan kecantikan Sabai Nan Aluih dalam cerita Sabai Nan Aluih sebagai berikut.

 

Djikok dipandang-pandang bana - djaranglah gadih katandiengnjo - badan rampieng lamah sumampai - mukonjo buda daun bodi - rambui’ karitieng gulung tigo - kaniengnjo kaliran tadji - mato ketek djo lindoknjo - pantjalie’an siraui’ djtuh - bulu mato samui’ bairieng - talingo djarek tatahan - pipinjo paueh dilayang - iduengnjo bagai dasun tunggal - mului’njo dalimo rakah - bibienjo asam sauleh - gigi rapek  putieh manggewang - lidahnya mampalam masak - dague’njo labah bagantueng - kulik nan kunieng kamerakan - bak udang kapalang panggang - djarinjo aluih bak bulu landak - karek kuku bulan kaabih - batihnjo bak parui’ padi - tumik nan bagai talue burung.

 

(Jika dipandang-pandang benar - jaranglah gadis akan tandingannya - badan ramping lemah semampai - mukanya budar daun bodi - rambut keriting gulung tiga - keningnya kiliran taji - mata kecil dengan sayunya - penglihatan seraut jatuh - bulu mata semut beriring - telinga jerat tertahan - pipinya pauh dilayang - hidungnya bagai dasun tunggal - mulutnya delma merekah - bibirnya asam seulas - giginya rapat putih menggewang - lidahnya mempelam masak - dagunya lebah bergantung - kulit yang kuning kemerahan - bak udang kepalang panggang - jari hhalus bak bulu landak - kerat kuku bulan akan habis - betisnya bak perut padi - tumit yang bagai telur burung).

 

Pelukisan tentang kecantikan Sabai Nan Aliuh itu ditulis dengan irama yang indah didengar dan dibaca. Berbagai perumpamaan dan ibarat dilakukan hingga terbentuk sajak, irama, dan rima yang menyejukkan hati pendengar atau pembaca. Pelukisan itu diurut oleh penulis dari badan, muka, tangan, hingga betis dan tumitnya.

 

                                                                                                           Ciledug, 20 Februari 2022

 

Rabu, 09 Februari 2022

Pembicaraan "Perang Bubat" dalam Novel Gajah Mada

 NOVEL GAJAH MADA TENTANG “PERANG BUBAT”

 

Novel  Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi menjadi novel sejarah terbesar di abad ini. Novel ini menggeser kedudukan novel sejarah yang lain, seperti novel Mutiara karya Nur Sutan Iskandar, Pergolakan karya Wildan Yatim, dan Jogya Diduduki karya Mohammad Dimyati.

Pengarang novel Indonesia tidak banyak yang yang menulis tentang novel sejarah. Yang dimunculkan hanya momen-momen kecil dari sejarah di dalam novel. Hal ini berarti bahwa sejarah ada di dalam novel, tetapi tidak seutuhnya  novel itu mengandung sejarah. Novel Sitti Nurbaya, misalnya,  mengandung unsur sejarah. Perang Belasting di Padang merupakan sebuah sejarah. Kemudian, novel Sirkuit Kemelut karya Ashadi Siregar memunculkan unsur sejarah yang kita kenal dengan sebutan “Peristiwa Malari” atau “Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari” di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Masih banyak lagi novel-novel kita yang melibatkan unsur sejarah di dalamnya.

Novel Gajah Mada terdiri atas lima jilid. Kisahnya dimulai pada saat pemerintahan Jayanagara, raja kedua Majapahit, menggantikan Raden Wijaya. Gajah Mada pada buku pertama ini muncul dalam menjaga dan melindungi Jayanagara sepanjang kehidupan Jayanagara itu. Pada buku kedua, dikisahkan tentang Majapahit yang diperintah oleh dua orang ratu sebagai pengganti Jayanagara, yaitu Ratu Sri Gitarja dan Ratu Dyah Wiyat. Di sini Gajah Mada tampil sebagai pembela negara dengan memperbesar dan memperkuat pasukan Majapahit, yang terkenal dengan nama “Bayangkara”. Buku ketiga memunculkan hadirnnya Sumpah Palapa dengan realisasinya yang dahsyad dengan menaklukkan beberapa kerajaan di nusantara. Buku keempat menampilkan Perang Bubat. Kemudian, buku terakhit menceritakan akhir dari kegiatan Gajah Mada dan mendekati kematiannya.

Dari awal, usaha untuk mendeskreditkan Sunda Galuh terjadi dari pendapat para pemuka dikalangan pihak istana. Usaha Gajah Mada untuk mempersatukan antara Sunda Galuh dan  Majapahit adalah sangat menggebu-gebu. Penentangan terjadi dari pihak Ibu Suri Diyah Wiyat dan Ibu Suri Sri Gitarja. Kedua Ibu Suri itu tidak menghendaki adanya perang dan adu kekuatan dalam peminangan terhadap Putri Dyah Pitaloka, putri mahkota Kerajaan Sunda Galuh. Dyah Pitaloka harus dijemput sebagai menantu, sebagai calon permaisuri Raja Hayam Wuruk. Sementara Gajah Mada menghendaki agar Putri Dyah Pitaloka ditempatkan sebagai putri persembahan Sunda Galuh ke Majapahit. Di sini terlihat perbedaan pendapat antara Ibu Suri dan Gajah Mada. Perbedaan pendapat itu sangat berdampak terhadap sikap pada utusan Majapahit itu. Para utusan yang berangkat ke Sunda Galuh membawa misi yang berbeda pula. Gajah Enggon ingin melamar Putri Dyah Pitaloka seperti yang diharapkan oleh Ibu Suri Dyah Wiyat dan Ibu Suri Sri Gitarja. Sementara Ma Panji Elan ingin membawa Putri Kerajaan Sunda Galuh itu sebagai persembahan ke Kerajaan Majapahit. Kedua misi utusan itu saling bertabrakan sehingga perundingan di antara utusa itu hingga tengah malam tidak mulus,

Di pihak Dyah Pitaloka terjadi hal yang membingungkan. Dyah Pitaloka hendak menikah dengan Hayam Wuruk, sementara dia sudah memadu kasih dengan orang lain, yaitu Saniscara, seorang pelukis. Di dalam hati Dyah Pitaloka terjadi kebimbangannya untuk menerima pinangan itu. Kebimbangan itu dilampiaskannya sebagai kehendak yang luar biasa, yaitu Dyah Pitaloka ingin diangkat menjadi raja Sunda Galuh, menggantikan ayahnya Maharaja Lingga Buana, sebelum dia diboyong ke Majapahit. Keinginan Dyah Pitaloka itu dikabulkan oleh Maharaja Lingga Buana sehingga keberangkatannya ke Majapahit bukan sebagai seorang putri raja, tetapi sebagai seorang raja dari Kerajaan Sunda Galuh. Dengan demikian, kedatangan Dyah Pitaloka harus disambut sebagai raja yang hendak menikah dengan seorang raja.

Ketika rombongan dari Sunda Galuh itu sampai di Pelabuhan Ujung Galuh, tidak ada penyambutan dari pihak Majapahit. Hal ini ternyata disebabkan oleh kebohongan yang dilakukan oleh Ma Panji Elan yang menyebarkan berita bohong dengan mengatakan bahwa rombongan dari Sunda Galuh menunda waktu satu minggu, padahal rombongan tersebut sudah berada di Lapangan Bubat. Kebohongan yang dilakukan oleh anak buah Gajah Mada itu tidak diketahui  oleh Gajah Mada. Sementara itu, di pihak Sunda Galuh merasa bahwa mereka dikhianati dan diperdaya. Akhirnya, di lapangan Bubat Majapahit itu pun perang terjadilah. Maharaja Linggabuana dan Ratu Dyah Pitaloka Citraresmi gugur dalam peperangan itu. Perang itu menghabiskan rombongan Sunda Galuh tanpa sisa seorang pun.

Itulah Perang Bubat yang disebabkan oleh ambisi Sumpah Palapa Gajah Mada dan kebohongan yang diciptakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sebetulnya, Perang Bubat itu tidak perlu terjadi andai kata Gajah Mada mau mengundurkan ambisinya sedikit saja.

 

Ciledug, 10 Februari 2022

Pengikut