Rabu, 20 April 2022

Novel Atheis sebagai Cerita Berliput

 NOVEL ATHEIS SEBAGAI  CERITA LIPUTAN

 

Novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja diterbitkan tahun 1949 oleh Balai Pustaka.

Hasan, seorang yang taat beragama (Islam). Karena cinta dan perdebatan yang berkepanjangan, terjadi kegoncangan jiwa. Kegoncangan itu disebabkan oleh ketiadaan keseimbangan antara hubungan horizotal dan vertikal dalam hidup manusia. Akhirnya, ia terpental keluar dari agama. Ia menjadi “atheis”.

Novel Atheis merupakan sebuah cerita berliput, yaitu cerita yang diceritakan oleh orang lain. Cerita berliput ini sangat indah dan mempunyai struktur yang istimewa. Keseluruhan cerita novel Atheis ini terdiri atas lima belas bagian, yaitu “Bagian Kesatu” hingga “Bagian Kelima Belas”.

Bagian Kesatu mengisahkan tentang Kartini yang dibimbing oleh Rusli dan saya yang sedang menangis karena Kartini ditinggal  mati suaminya, Hasan. Hasan ditembak oleh Kenpetai Jepang.

Bagian Kedua mengisahkan tentang saya bertemu dengan Hasan. Hasan menyerahkan naskah cerita tentang diri Hasai sendiri, semacam otobiografi. Hasan meminta agar saya membacanya untuk dikoreksi.

Bagian Ketiga berisi tentang kehidupan Hasan pada masa kecil. Ibu dan bapaknya taat beragama di Kampung Penyeredan di lereng Telaga Bodas. Ia mempunyai adik ankat yan bernama Fatimah.

Bagian Keempat berisi tentang Hasan bertemu dengan Rusli, temannya sekolah itu, dan Kartini yang cantik. Hasan mulai  tertarik denan Kartini, Katin itu mirip Rukmini, kekasih Hasan, yang suh meninggal. Kartin ternyata wanita modern yang berada partai komunis . Rusli sangat peokok. Kartini juga perokok. Rusli mempunyai panangan Marxist. Hasan berpikiran hendak mengislamkannya. Juga Kartini, tetapi gagal karena Rusli mempunyai cerita lain.

Bagian Kelima bercerita tentang Hasan sudah terpikat oleh bujukan Rusli. Ia sering ikut pertemuan kaum Marxist.

Bagian Keenam bercerita tentang Cinta Hasan kepada Kartini. Semua terlihat indah dan dia sering bersama-sama dengan Kartini. Dia sering berdua--duaan.Ia berkenalan dengan Anwar.

Bagian Ketujuh bercerita tentang Hasan menyertai perdebatan Bung Parto dengan Anwar. Dalam keterangannya, Bung Parto mengatakan bahwaTuhan tidak ada. Tuhan sama saja dengan teknik. Pikian Hasan terseret oleh perdebatan itu.

Bagian Kedelapan berbicara tentang hubungan Hasan dan Kartini semakin dekat. Kartini minta dipanggil Tin atau Tini saja. Sejak itu, mereka saling memanggil nama. Hasan sudah sangat cinta pada Kartini. Tampaknya, Hasan harus memilih untuk hidup seperti Kartini.

Bagian Kesembilan berbicara tentang ayah dan ibu Hasan tidak suka hubungan Hasan dengan Kartini; apalagi Hasan tidak lagi mempelajari agama. Hasan sudah ikut menjadi atheis, tidak percaya adanya Tuhan.

Bagian Kesepuluh berkisah tentang Hasan ingat kepada ibunya dan ayahnya yang tersayat-sayat hatinya karena kelakuan Hasan. Akan tetapi, Hasan tidak dapat berbuat apa-apa.

Bagian Kesebelas bercerita tentang penikahan Hasan dengan Kartini secara sederhana.

Bagian Kedua belas berbicara tentang  kekeruhan rumah tangga Hasan dan Kartini. Hal itu disebabkan oleh surat dari ibunya yang menyuruh Hasan menikah dengan Fatimah. Pecekcokan memuncak sehingga Kartini sering melarikan diri. Kartini pergi dengan Anwar. Setelah pulang, Kartini dipukul oleh Hasan. Kartini meninggalkan rumah. Hasan masih menunggu kepulangan Kartini. Tbc Hasan kambuh lagi.  Dia sudah tahu bahwa semua ini gara-gara Anwar, Hasan pingsan. Dia menghayalkan membunuh Anwar. Inilah akhir naskah Hasan yang dibacakan oleh saya, naskah yang diserahkan Hasan kepada saya

Bagian Ketiga Belas bercerita tentang Hasan kembali menemui saya. Kurus dan batu-batuk. Hasan meninggalkan saya. Setelah Hasan pergi, saya mencoba mendatangi tempat-tempat yang ada hubungannya dengan cerita Hasan itu. Lama saya tidak bertemu Hasan. Kabar Hasan ditangkap oleh kenpetai Jepang, tentu Hasan sudah meninggal.

Bagian Keempat Belas bercerita tentang Kartini yang hendak  diperkosa oleh Anwar di sebuah hotel. Akan tetapi, Kartini berhasil melarikan diri dari Anwar.

Bagian Kelima Belas berbicara tentang pasukan Jepang. Hasan masuk lubang  pelindung berdempet-dempet dengan orang banyak karena serangan udara Jepang dalam mempertahan elstensinya di Indonesia. Kemudian Hasan pergi ke hotel, Dia menemukan nama Anwar dan Ka rtini. Ia cemburu dan marah dengan amat dalam. Dia keluar dari hotel untuk mencari Anwar. Namun, bahaya udara Jepang sedang berpatroli. Orang-orang berteriak agar dia masuk ke lubang di bawah tanah. Hasan tidak peduli. Emosi dan kemarahannya kepada Anwar lebih basar daripada keselamatan jianya. Hasan lari. Demikianlah, Tembakan Jepang akhirnya menghentikan gerakan Hasan. Dia ditembak dengan dituduh mata-mata musuh.

Itulah novel Atheis karya Achdiat K. Mihardja. Novel ini sudah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa. Cerita ini termasuk ke dalam cerita berliput. Ada bagian liputannya, ada bagian inti. Bagian liputannya adalah Bagian Kesatu dan Bagian Kedua. Bagian Ketiga hingga Bagian Kedua Belas adalah inti cerita yang datang dari Hasan sendiri. Bagian Ketiga Belas merupakan bagian liputan cerita. Cerita bagian inti berjalan dari Bagian Empat Belas hingga Bagian Kelima belas. (S. Amran Tasai)

Selasa, 15 Maret 2022

Puisi Baru Menurut Bentuknya I

 PUISI BARU MENURUT BENTUKNYA

Bagian Pertama

Dalam melihat puisi baru yang tumpuannya pada bentuknya, kita dapat menyebutkan beberapa buah dengan nama yang khas. Penamaan itu disesuaikan dengan jumlah larik pada satu bait. Oleh sebab itu, nama tersebut dipakai untuk menyebutkan satu bait. Nama sajak atau puisi itu adalah distikon, terzina, kuatren, kuin, sekstet, septima, dan oktaf. Yang terakhir adalah soneta.

       Penamaan ini tidak dapat ditempatkan pada puisi lama karena puisi lama itu sudah mempunyai nama tersendiri. Puisi lama lebih terikat dan tidak sebebas puisi baru. Kita mengenal nama-nama puisi lama itu, yaitu karmina, gurindam, pantun, syair, dan talibun. Namun, bentuk-bentuk itu sangat terikat pada beberapa syarat yang harus diikuti. Umpamanya, jumlah suku kata, rima, sampiran dan isi, serta keselarasan sebab akibat.

       Jenis puisi baru (sejak Balai Pustaka hingga sekarang) ada delapan jenis. Jenis itu adalah distikon, terzina, kuatren, kuin, sekstet, septima, oktaf, dan soneta.

 

Distikon

Distikon ialah sajak dua seuntai. Artinya, sajak atau puisi itu terdiri atas  dua larik dalam satu bait. Bagan rimanya sangat beragam, yaitu aa atau ab. Distikon dapat terjadi dalam satu sajak dengan baitnya terdiri atas distikon, tetapi dapat pula terjadi pada puisi yang tidak semuanya distikon.

Contoh:

 

Cintaku Jauh di Pulau

Cintaku jauh di pulau

gadis sekarang iseng sendiri

….

Manisku jauh di pulau

kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri

(Chairil Anwar)

 

Puisi “Cintaku Jauh di Pulau” karya Chairil Anwar ini terdiri atas lima bait. Hanya bait pertama dan bait terakhir yang berbentuk distikon. Bait yang lain bukan bentuk distikon.

 

Terzina

Terzina ialah sajak tiga seuntai. Artinya, sajak atau puisi itu terdiri atas tiga larik dalam satu bait. Bagan rimanya sangat beragam. Rimanya adalah aaa, aba, abb, atau abc. Seperti distikon, terzina dapat terjadi dalam satu sajak yang baitnya semua terzina, tetapi dapat pula terjadi pada puisi yang tidak semua baitnya terzina.

Contoh:

 

Menyesal

Ah! Apa guna kusesalkan

menyesal tua tiada berguna

hanya menambah luka sukma

 

Pada yang muda keharapkan

atur barisan di hari pagi

menuju kaabah padang bakti

(A. Hasjmy)

 

      Sajak atau puisi “Menyesal” karya A Hasjmy ini terdiri atas empat bait. Hanya bait ketiga dan keempat yang berbentuk terzina. Bait pertama dan kedua tidak berbentuk terzina.

 

 

Kuatren

Kuatren ialah sajak empat seuntai. Artinya, sajak atau puisi itu berisi empat larik dalam satu bait. Apakah lariknya berbentuk kalimat atau hanya bentuk frasa atau kumpulam frasa, hal itu tidak menjadi persoalan. Yang dihitung hanya larik, bukan baris. Bagan rima yang berlaku pada kuatren ini ialah aaaa, aaab, aabb, abbb, abab, aabc, abba, dan sebagainya. Hal ini terjadi karena puisi baru lebih bebas untuk memilih rima yang dipakai.

Contoh:

 

Pada-Mu Jua

 

Habis kikis

Segala cintaku hilang terbang

Pulang kembali aku pada-Mu

Seperti dahulu

 

Kaulah kandil kemerlap

Pelita jendela di malam gelap

Melambai pulang perlahan

Sabar setia selalu

(Amir Hamzah)

 

     Sajak atau puisi “Pada-Mu Jua”karya Amir Hamzah ini mempunyai jumlah bait tujuh buah. Ketujuh bait itu berbentuk kuatren.

 

Kuin

Kuin ialah sajak lima seuntai. Artinya, sajak atau puisi itu terdiri atas lima larik dalam satu bait. Dalam sebuah sajak atau puisi, tidak semua baitnya berbentuk kuin. Kelima larik itu berbagan rima aaaaa, aabba, dan mungkin pula bagan rima lain. Sudah kita ketahui bahwa puisi baru tidak terlalu terikat oleh rima.

Contoh:

 

Surat dari Ibu

 

Pergi ke dunia luas, anakku sayang

pergi ke hidup bebas!

Selma angin masih angin buritan

dan matahari pagi menyinar daun-daunan

Dalam rimba dan padang hijau.

 

Pergi ke laut lepas, anakku sayang

pergi ke alam bebas!

Selama hari belum petang

dan warna senja belum kemerah-merahan

menutup pintu waktu lampau.

(Asrul Sani)

 

Sajak atau puisi “Surat dari Ibu” karya Asrul Sani ini berjumlah empat bait. Hanya bait ketiga yang tidak berbentuk kuin. Pada bait pertama, bait kedua, dan bait keempat, sajak itu berada dalam bentuk kuin. (S. Amran Tasai).

 

 

 

ooo

Rabu, 09 Maret 2022

Mengenal Prosa Lirik dalam Sastra III

 MENGENAL PROSA LIRIK DALAM SASTRA

Bagian Ketiga

 

Prosa lirik atau prosa berirama tidak hanya terdapat dalam sastra Indonesia lama, tetapi juga terdapat dalam sastra Indonesia modern. Memang tidak banyak prosa lirik dalam sastra Indonesia modern.  Salah satu cerita yang berbentuk prosa lirik adalah novel Pengakuan Pariyem (1981) yang  ditulis oleh Linus Suryadi AG.

Seorang gadis dari Wonogiri yang bernama Periyem Maria Magdalena yang disapa dengan “Iyem” bekerja sebagai pramuwisma (babu) nDoro Kajeng Cakro Santoso di nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta. Inti ceritanya, Iyem sebagai babu melakukan cinta terlarang dengan anak sulung nDalem Suryomentaraman Ngayogyakarta yang bernama Bagus Ario Atmojo. Iyem tidak menuntut untuk menjadi istri Bagus. Iyem cukup puas dengan diakui sebagai menantu walau tidak dikawini. Anaknya dibawa ke Wonogiri dan Iyem kembali menjadi babu di nDalem Suryomentaraman. Barangkali Iyem sudah puas dengan memperoleh “keturunan “ dari nDoro Kajeng karena derajat atau martabat Iyam menjadi lebih baik.

Linus Suryadi AG menyampaikan cerita dengan prosa lirik

 

Ya, ya, Pariyem saya

Maria Magdalena lengkapnya

“Iyem” panggilan seharinya

dari Wonogiri Gunung Kidul.

Saya tak suka serba kaku --ngotot --

bagaikan baja yang keras tapi getas

sekali bengkok tak punya gaya pegas

Saya suka serba luwes --lembut--

bagaikan putri kraton Ngayogyakarta

yang lembah manah dan andhap asor

tenang bagaikan air kolam

memantulkan sinar rembulan

 

Puisi lirik yang dipaparkan oleh Linus Suryadi menggunakan sudut pandang orang pertama dalam segala peristiwa. Dalam memperlihat sikap Iyem yang puas dengan diakui sebagai menantu yang tidak dinikahi, yang lebih menitikberatkan persoalan keturunan nDoro Kajeng dari pada dosa dan agama, terlihat dalam pengakuanya yang disampaikan dengan prosa lirik.

 

      Dan agama, apakah agama?

Lha di Sorga, Gusti Allah tak bertanya: ‘Agamamu apa di dunia?’

Tapi ia bertanya: ‘Di dunia kamu berbuat apa?


Pengakuan tentang anaknya yang diperoleh dari cinta terlarang itu, dipaparkannya dengan prosa lirik yang menarik, Memang, prosa lirik disampaikan dengan cara yang sama sebagai sebuah puisi. Penggalan-penggalannya sama dengan puisi. Akan tetapi, puisi lebih menekankan rima atau sajak, sedangkan prosa lirik lebih memperhatikan hentakan ritme dan keindahan.

 

Demikianlah, benih dalam hati saya tertanam:

Sambutlah siapa pun juga dia

dengan sabar dan tenang

Terimalah bagaimana pun juga dia

dengan senyum dan keramahan

Dan jamulah apa pun juga dia

dengan ikhlas tanpa kecurigaan

 

 Kadang-kadang terasa bahwa apabila membaca prosa lirik itu, seolah-olah kita membawa sebuah puisi. Hal itu terjadi karena prosa lirik juga mementingkan jumlah suku kata yang dipakai sebagai tolok ukur hentakan kata yang indah. Kadang-kadang keindahan itu dibarengi pula oleh majas.

Dalam drama (lakon) Bebasari (1926) yang ditulis oleh Rustam Effendi cerita disampaikan dengan prosa lirik juga. Ceritanya ditulis dalam tiga babak. Karena dilarang oleh Pemeritah Hindia Belanda, Bebasari tidak jadi dipentaskan. Baru pada tahun 1953 drama itu diterbitkan kembali oleh Penerbit Pasco. Di situ kita simak bahwa Bebasari ditulis dengan persajakan yang teratur. Oleh sebab itu, H.B. Yassin, kritikus terkemuka Indonesia, mengatakan dengan tegas bahwa drama Bebasari merupakan drama bersajak.

Inti cerita: Kerajaan Maharaja Takutar ditaklukkan dan dirampas oleh Rawana. Anak Majaraja Takutar yang bernama Bujangga masih muda dan tidak dapat berbuat apa-apa. Tunangan Bujangga yang bernama Bebasari dikurung oleh Rawana yang dijaga oleh jin dan peri. Setelah Bujangga dewasa dia menyusun kekuatan hingga mengalahkan Rawana. Bebasari dibebaskannya dari kurungannya.

Drama Bebasari disampaikan dengan prosa lirik yang diuntai sebagai puisi. Bagaimana Bebasari menyampaikan rasa hatinya, dapat kita simak pada kata-kata berikut.

 

Kakanda, dari zaman berganti zaman

Tetap hatiku menanti tuan

Karena bakal membawa merdeka

Saban cintamu kepada loka

 

Susah payah tuan kemari

Menyeberangi darah menempur diri

O, kakanda junjungan beta

Tidak kemenangan dapat dipinta

Tiap pekerjaan meminta korban

Tiap asmara melupakan badan

 

Itulah bentuk prosa lirik dalam sastra kita. Prosa lirik itu ditempatkan pada sebuah cerita, baik pada sastra Indonesia lama maupun pada sastra Indonesia modern. Prosa lirik atau prosa berirama dapat ditulis dengan cara horizontal (seperti novel Sabai Nan Aluih) dan dapat pula diuntai (seperti novel Pengakuan Pariyem dan drama Bebasari). Namun, prosa lirik dipakai dalam sebuah cerita atau prosa. (S. Amran Tasai)

 

ooo 

Selasa, 01 Maret 2022

Mengenal Prosa Lirik dalam Sastra II

 MENGENAL PROSA LIRIK DALAM SASTRA

Bagian Kedua

 

Prosa lirik tidak hanya meruntutkan gambaran perwajahan seseorang, tetapi semua peristiwa atau kejadian dapat dinyatakan dengan prosa lirik atau prosa berirama. Keadaan perang, keadaan perkelahian, keadan jiwa yang sedang sedih, dan sebagainya dapat dinyatakan dengan prosa liris.

Dalam cerita Sabai Nan Aluih dimunculkan peperangan antara Rajo Babanding (Ayah Sabai Nan Aluih) dan Rajo dan Rajo Nan Panjang. Semua dideskripsikan dengan prosa liris atau prosa berirama. Dalam peperangan itu, Rajo Babanding menemui ajalnya karena Rajo Nan Kongkong, pembantu Rajo Nan Panjang, melakukan kecurangan. Peperangan ini lantaran peminangan Rajo Nan Panjang atas Sabai Nan Alih ditolak oleh Rajo Babanding. Tidak ada jalan penyelesaian hingga terjadi peperangan itu.

 

Katangah balie’ Radjo Nan Pandjang - dibaokannjo langkah sumbang - langkah mamantjieng Radjo Babandieng - Kununlah katiko nantun - manggarik Radjo Nan Pandjang - kapado Radjo Nan Kongkong - Lah mambidie’ Radjo Nan Kongkong - badantm bunyi badienjo - lah kanai Radjo Babandieng - kanailah djarieng-djarien bahu - kanailah dapue-dapue susu - bakunang-kunang pantjalie’an - rabahlah injo maso nantun - rabah nan indak djago lai.

 

(Ke tengah kembali ajo Nan Panjang - dibawakannya langkah smbang - langkah pemancing Rajo Babanding - Kononlah ketika itu - memberi aba-aba Rajo Nan Panjang - kepada Rajo Nan Kongkong - telah membidik Rajo Nan Kongkong - berdentum bunyi bedilnya - telah kena Rajo Babanding - kenalah jaring-jaring bahu - kenalah dapur-dapur susu - berkunang-kunang penglihatan - rebah ia pada waktu itu - rebah yang tidak bangun lagi).

 

Kematian Rajo Babanding, memunculkan kemarahan Sabai Nan Aluih. Keberanianya muncul untuk membalas dendam pada Rajo Nan Panjang. Ia hendak menuntut keadilan pada Rajo Nan Panjang. Deskripsi peperangan Sabai Nan Aluih disampaikan dengan  prosa lirik yang menarik.

 

Kununlah Sabai Nan Aluih - dipagang badie nan disandang - ditimang duo balah tangan - diindjak kaki nan suok - mananti kaki nan kida -  digandjue suok kabalakang - dikamumokan kaki nan kida - digelekan pinggang nan lamah - bak tjando alang kamanjamba - mambidie’ Sabai disinan.

Sadanglah Radjo Nan Pandjang - dirusue’an pinggang nan kasa - tapepeh kaki sabalah - lapeh tembakan Sabai Nan Aluih - tapek dibahu Radjo Nan Pandjang - Kanailah djarieng-djarieng bahu - taruih kadapue-dapue susu - tasungkue Radjo Nan Pandjang - rabah nan indak djago lai - disinan adjanjo sampai.

 

(Kononlah Sabai Nan Aluih - dipegang bedil yang disandang - ditimang dua belah tangan - digerakkan kaki yang kanan - menanti kaki yang kiri - ditarik kaki kanan ke belakang - dimajukan kaki yang kiri - digerakkan pinggang yang lemah - bak seperti elang akan menyambar - membidik Sabai di situ.

Sedangkan Raja Nan Panjang - digerakkan pinggang yang kasar - terantuk kaki sebelah - lepas tembakan Sabai Nan Aluih - tepat di bahu Rajo Nan Panjang - Kenalah jaring-jaring bahu - terus ke dapur-dapur susu - tersungkur Rajo Nan Panjang - rebah yang tidak bangun lagi - di situ ajalnya sampai).

 

Peperangan antara Sabai Nan Aluih dan Rajo Nan Panjang berakhir dengan kematian Rajo Nan Panjang. Sabai Nan Aluih berhasil membalas dendam atas kematian ayahnya, Rajo Babanding. Semuanya suasana perang itu disampaikan dengan prosa lirik atau prosa berirama dengan indah dan menarik.

 

 

ooo 

Minggu, 20 Februari 2022

Mengenal Prosa Lirik dalam Sastra I

 MENGENAL PROSA LIRIK DALAM SASTRA

Bagian Pertama

 

Prosa lirik adalah prosa berirama. Kedua isilah itu tidak berbeda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dikatakan bahwa prosa berirama merupakan karya sastra yang ditulis dalam ragam prosa, tetapi dicirikan oleh unsur-unsur puisi, seperti irama yang teratur, majas, rima, asonansi, disonansi, dan citra. Dalam pembacaan prosa lirik itu, muncul beberapa nilai rasa yang sama dengan puisi. Hentakan nada dan tempo terasa seperti halnya menghadapi sebuah puisi. Keindahannya terasa di dalam pembacaan itu sehingga prosa lirik enak dibaca.

      Sebuah prosa lirik dalam sastra lama dimunculkan dengan sedemikian rupa sehingga majas perumpamaan sering terlihat dengan jelas. Perumpamaan dalam menggambarkan wajah seorang wanita yang cantik hampir tidak pernah terlupakan di dalamnya. Sebagai suatu contoh, bagaimana M. Rasjid Manggis Gelar Datuk Radjo Panghoeloe (penulis Sabai Nan Aluih) menggambarkan kecantikan Sabai Nan Aluih dalam cerita Sabai Nan Aluih sebagai berikut.

 

Djikok dipandang-pandang bana - djaranglah gadih katandiengnjo - badan rampieng lamah sumampai - mukonjo buda daun bodi - rambui’ karitieng gulung tigo - kaniengnjo kaliran tadji - mato ketek djo lindoknjo - pantjalie’an siraui’ djtuh - bulu mato samui’ bairieng - talingo djarek tatahan - pipinjo paueh dilayang - iduengnjo bagai dasun tunggal - mului’njo dalimo rakah - bibienjo asam sauleh - gigi rapek  putieh manggewang - lidahnya mampalam masak - dague’njo labah bagantueng - kulik nan kunieng kamerakan - bak udang kapalang panggang - djarinjo aluih bak bulu landak - karek kuku bulan kaabih - batihnjo bak parui’ padi - tumik nan bagai talue burung.

 

(Jika dipandang-pandang benar - jaranglah gadis akan tandingannya - badan ramping lemah semampai - mukanya budar daun bodi - rambut keriting gulung tiga - keningnya kiliran taji - mata kecil dengan sayunya - penglihatan seraut jatuh - bulu mata semut beriring - telinga jerat tertahan - pipinya pauh dilayang - hidungnya bagai dasun tunggal - mulutnya delma merekah - bibirnya asam seulas - giginya rapat putih menggewang - lidahnya mempelam masak - dagunya lebah bergantung - kulit yang kuning kemerahan - bak udang kepalang panggang - jari hhalus bak bulu landak - kerat kuku bulan akan habis - betisnya bak perut padi - tumit yang bagai telur burung).

 

Pelukisan tentang kecantikan Sabai Nan Aliuh itu ditulis dengan irama yang indah didengar dan dibaca. Berbagai perumpamaan dan ibarat dilakukan hingga terbentuk sajak, irama, dan rima yang menyejukkan hati pendengar atau pembaca. Pelukisan itu diurut oleh penulis dari badan, muka, tangan, hingga betis dan tumitnya.

 

                                                                                                           Ciledug, 20 Februari 2022

 

Rabu, 09 Februari 2022

Pembicaraan "Perang Bubat" dalam Novel Gajah Mada

 NOVEL GAJAH MADA TENTANG “PERANG BUBAT”

 

Novel  Gajah Mada karya Langit Kresna Hariadi menjadi novel sejarah terbesar di abad ini. Novel ini menggeser kedudukan novel sejarah yang lain, seperti novel Mutiara karya Nur Sutan Iskandar, Pergolakan karya Wildan Yatim, dan Jogya Diduduki karya Mohammad Dimyati.

Pengarang novel Indonesia tidak banyak yang yang menulis tentang novel sejarah. Yang dimunculkan hanya momen-momen kecil dari sejarah di dalam novel. Hal ini berarti bahwa sejarah ada di dalam novel, tetapi tidak seutuhnya  novel itu mengandung sejarah. Novel Sitti Nurbaya, misalnya,  mengandung unsur sejarah. Perang Belasting di Padang merupakan sebuah sejarah. Kemudian, novel Sirkuit Kemelut karya Ashadi Siregar memunculkan unsur sejarah yang kita kenal dengan sebutan “Peristiwa Malari” atau “Peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari” di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Masih banyak lagi novel-novel kita yang melibatkan unsur sejarah di dalamnya.

Novel Gajah Mada terdiri atas lima jilid. Kisahnya dimulai pada saat pemerintahan Jayanagara, raja kedua Majapahit, menggantikan Raden Wijaya. Gajah Mada pada buku pertama ini muncul dalam menjaga dan melindungi Jayanagara sepanjang kehidupan Jayanagara itu. Pada buku kedua, dikisahkan tentang Majapahit yang diperintah oleh dua orang ratu sebagai pengganti Jayanagara, yaitu Ratu Sri Gitarja dan Ratu Dyah Wiyat. Di sini Gajah Mada tampil sebagai pembela negara dengan memperbesar dan memperkuat pasukan Majapahit, yang terkenal dengan nama “Bayangkara”. Buku ketiga memunculkan hadirnnya Sumpah Palapa dengan realisasinya yang dahsyad dengan menaklukkan beberapa kerajaan di nusantara. Buku keempat menampilkan Perang Bubat. Kemudian, buku terakhit menceritakan akhir dari kegiatan Gajah Mada dan mendekati kematiannya.

Dari awal, usaha untuk mendeskreditkan Sunda Galuh terjadi dari pendapat para pemuka dikalangan pihak istana. Usaha Gajah Mada untuk mempersatukan antara Sunda Galuh dan  Majapahit adalah sangat menggebu-gebu. Penentangan terjadi dari pihak Ibu Suri Diyah Wiyat dan Ibu Suri Sri Gitarja. Kedua Ibu Suri itu tidak menghendaki adanya perang dan adu kekuatan dalam peminangan terhadap Putri Dyah Pitaloka, putri mahkota Kerajaan Sunda Galuh. Dyah Pitaloka harus dijemput sebagai menantu, sebagai calon permaisuri Raja Hayam Wuruk. Sementara Gajah Mada menghendaki agar Putri Dyah Pitaloka ditempatkan sebagai putri persembahan Sunda Galuh ke Majapahit. Di sini terlihat perbedaan pendapat antara Ibu Suri dan Gajah Mada. Perbedaan pendapat itu sangat berdampak terhadap sikap pada utusan Majapahit itu. Para utusan yang berangkat ke Sunda Galuh membawa misi yang berbeda pula. Gajah Enggon ingin melamar Putri Dyah Pitaloka seperti yang diharapkan oleh Ibu Suri Dyah Wiyat dan Ibu Suri Sri Gitarja. Sementara Ma Panji Elan ingin membawa Putri Kerajaan Sunda Galuh itu sebagai persembahan ke Kerajaan Majapahit. Kedua misi utusan itu saling bertabrakan sehingga perundingan di antara utusa itu hingga tengah malam tidak mulus,

Di pihak Dyah Pitaloka terjadi hal yang membingungkan. Dyah Pitaloka hendak menikah dengan Hayam Wuruk, sementara dia sudah memadu kasih dengan orang lain, yaitu Saniscara, seorang pelukis. Di dalam hati Dyah Pitaloka terjadi kebimbangannya untuk menerima pinangan itu. Kebimbangan itu dilampiaskannya sebagai kehendak yang luar biasa, yaitu Dyah Pitaloka ingin diangkat menjadi raja Sunda Galuh, menggantikan ayahnya Maharaja Lingga Buana, sebelum dia diboyong ke Majapahit. Keinginan Dyah Pitaloka itu dikabulkan oleh Maharaja Lingga Buana sehingga keberangkatannya ke Majapahit bukan sebagai seorang putri raja, tetapi sebagai seorang raja dari Kerajaan Sunda Galuh. Dengan demikian, kedatangan Dyah Pitaloka harus disambut sebagai raja yang hendak menikah dengan seorang raja.

Ketika rombongan dari Sunda Galuh itu sampai di Pelabuhan Ujung Galuh, tidak ada penyambutan dari pihak Majapahit. Hal ini ternyata disebabkan oleh kebohongan yang dilakukan oleh Ma Panji Elan yang menyebarkan berita bohong dengan mengatakan bahwa rombongan dari Sunda Galuh menunda waktu satu minggu, padahal rombongan tersebut sudah berada di Lapangan Bubat. Kebohongan yang dilakukan oleh anak buah Gajah Mada itu tidak diketahui  oleh Gajah Mada. Sementara itu, di pihak Sunda Galuh merasa bahwa mereka dikhianati dan diperdaya. Akhirnya, di lapangan Bubat Majapahit itu pun perang terjadilah. Maharaja Linggabuana dan Ratu Dyah Pitaloka Citraresmi gugur dalam peperangan itu. Perang itu menghabiskan rombongan Sunda Galuh tanpa sisa seorang pun.

Itulah Perang Bubat yang disebabkan oleh ambisi Sumpah Palapa Gajah Mada dan kebohongan yang diciptakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab. Sebetulnya, Perang Bubat itu tidak perlu terjadi andai kata Gajah Mada mau mengundurkan ambisinya sedikit saja.

 

Ciledug, 10 Februari 2022

Rabu, 20 Mei 2009

Sastra dan minat baca

Minat baca harus dimulai dari usia 6 s.d. 12 tahun. Pada masa itu siswa atau anak didik hendaknya dihadapkan pada bacaan-bacaan yang ringan sehingga mereka tidak merasa kesulitan untuk membaca. Minat baca seperti itu memperkuat ranah kognitif mereka. Di sinilah peranan bacaan yang berisi sastra. Sastra membawa siswa untuk membaca hal-hal yang ringan yang berada dalam kisah dan peristiwa. Sastra membantu minat baca.

Pengikut